Jakarta - Penyanyi dan penulis lagu Nadia Dari kembali menghadirkan karya spesial di bulan Agustus. Kali ini, bukan sekadar single, melainkan sebuah persembahan yang memiliki cerita sangat personal dalam perjalanan hidupnya.
Bertajuk “Nada Untuk Negeri”, mini album ini menghadirkan tiga lagu nasional yang dinyanyikan kembali oleh Nadia, yaitu “Tanah Airku” ciptaan Ibu Soed, “Indonesia Pusaka” ciptaan Ismail Marzuki, dan “Untukmu Indonesiaku” ciptaan Guruh Sukarno Putra.
Di balik ketiga lagu tersebut terdapat sebuah cerita tentang identitas, keluarga, dan sebuah keputusan besar yang harus diambil Nadia setelah selama dua dekade menyandang dua kewarganegaraan sebagai anak yang lahir dari orang tua berbeda negara. Lahir dan tumbuh di beberapa negara tidak membuat Nadia menjalani kesehariannya tanpa mengenal Indonesia sebagai tanah air. Hingga tahun ini, Nadia berada pada satu titik ketika ia harus menentukan pilihan kewarganegaraan. Dan Nadia memilih Indonesia.
“Buat saya, ini adalah salah satu momen yang sangat berarti dan menjadi salah satu milestone yang memantapkan diri saya sendiri. Memilih Indonesia bukan hanya tentang kewarganegaraan. Saya tumbuh dalam didikan keluarga yang mengedepankan bangsa Indonesia. Sejak kecil, Ibu juga selalu menanamkan rasa cinta kepada Indonesia. Jadi, meskipun saya pernah tinggal di negara yang berbeda, ketika akhirnya waktu untuk memilih tiba, Indonesia terasa seperti pilihan yang terbaik,” ungkap Nadia.
Keputusan tersebut kemudian menjadi salah satu inspirasi lahirnya “Nada Untuk Negeri”. Dari Musik, untuk Indonesia
Meski masih tergolong sebagai penyanyi muda, mahasiswa fakultas hukum ini bukan pendatang baru dalam perjalanan musik di Indonesia. Sejak 2024, Nadia telah merilis sejumlah single, mulai dari “Morning Birds”, “Galaksi”, “Di Jalan-Mu”, “Frozen In Time”, hingga “Let It Go”. Bermusik dan menciptakan lagu, menjadikan musik sebagai ruang untuk menuangkan pengalaman dan cerita yang dekat dengan kehidupannya. Jika karya-karya sebelumnya banyak bercerita tentang pengalaman personal, perasaan, perjalanan hidup, dan pencarian diri, “Nada Untuk Negeri” membawa Nadia pada cerita yang lebih luas, namun tetap sangat dekat dengan dirinya: Indonesia.
“Musik adalah bahasa universal. Musik menjadi salah satu cara saya mengekspresikan apa yang saya rasakan. Jadi ketika saya mengalami momen harus memilih
kewarganegaraan, saya merasa ingin menuangkannya juga lewat musik. Tiga lagu nasional ini sudah menemani saya tumbuh sejak kecil dan memiliki arti yang mendalam
bagi saya. Dan saya ingin menuangkan perasaan saya ini lewat lagu-lagu yang sudah sangat dekat dengan kita”, jelas Nadia.
Cinta Indonesia yang Tumbuh dari Rumah
Bagi Nadia, kecintaan terhadap Indonesia tidak datang secara tiba-tiba ketika ia harus menentukan kewarganegaraan. Perasaan tersebut sudah tumbuh sejak kecil dan menjadi
bagian dari kesehariannya, terutama melalui keluarga. Sang ibu menjadi sosok yang memiliki peran besar dalam memperkenalkan sekaligus menanamkan rasa cinta terhadap Indonesia kepada Nadia. Lewat hal-hal sederhana di rumah,mulai dari lagu-lagu nasional yang dikenalkan sejak kecil, cerita tentang Indonesia dan budayanya, hingga berbagai kebiasaan sehari-hari, kecintaan terhadap tanah air tumbuh
secara natural tanpa terasa sebagai sebuah kewajiban.
“Dari kecil Ibu sudah mengajarkan saya untuk mencintai Indonesia. Lagu-lagu nasional juga sudah sering saya dengarkan dan nyanyikan sejak kecil.
Jadi lagu seperti ‘Tanah Airku’ ‘Untukmu indonesiaku’ dan ‘Indonesia Pusaka’ bukan sesuatu yang asing buat saya. Ada rasa dan kenangan sendiri
ketika menyanyikannya,” kata Nadia.
Bagi Nadia, apa yang ditanamkan sang ibu sejak kecil tersebut baru terasa semakin bermakna ketika ia berada pada titik harus menentukan kewarganegaraannya. Ia menyadari bahwa rasa memiliki terhadap Indonesia ternyata bukan sesuatu yang baru muncul karena sebuah pilihan, melainkan sesuatu yang sudah tumbuh bersamanya selama bertahun-tahun.Karena itu, ketika kemudian memilih Indonesia, Nadia merasa ada bagian dari perjalanan hidupnya yang akhirnya menemukan bentuknya melalui musik. Ketiga lagu dalam “Nada Untuk Negeri” pun dipilih bukan hanya karena merupakan lagu nasional, tetapi karena masing-masing memiliki cerita dan rasa yang berbeda bagi Nadia yaitu tentang tanah air, kebanggaan, dan sebuah persembahan untuk Indonesia.
Tiga Lagu, Tiga Rasa untuk Indonesia
- “Tanah Airku” ciptaan Ibu Soed
“Tanah Airku” menjadi representasi kedekatan emosional Nadia dengan tanah kelahiran. Lagu yangbegitu lekat dengan momen-momen penting tentang Indonesia ini selalu memiliki cara untuk
membangkitkan rasa rindu dan cinta terhadap tanah air.
“Waktu aku nyanyi ini sama kak irvnat di-directnya justru lebih ke membayangkan ketika sedang tidakdi indonesia, dan betul banget, rasa rindu itu langsung muncul sampai rasanya merinding! Terutama
ketika sampai di lirik ‘biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu’”, Nadia menambahkan,
“Sejak kecil ketika sedang tidak ada di Indonesia, aku ada beberapa momen selalu kangen dan tetapmencintai tanah air walau sedang terpisahkan oleh jarak. Trus bagaimanapun hebatnya negara lain,tetep rasa rumah untuk pulang itu indonesia.Buat aku, tidak ada yang menggantikan rasanya tinggal di
Indonesia, mulai dari budaya, alam, makanan dan lain-lainnya”
- “Indonesia Pusaka” ciptaan Ismail Marzuki
“Indonesia Pusaka” membawa rasa bangga dan kecintaan terhadap Indonesia sebagai negeri yangmenjadi bagian dari perjalanan hidup. Melalui lagu ini, Nadia ingin menyampaikan rasa syukur atastanah air dengan segala kekayaan budaya, sejarah, dan nilai yang diwariskan dari generasi kegenerasi.“Indonesia Pusaka” juga menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin terbuka dan generasimuda semakin mudah mengenal berbagai budaya dari negara lain, mengenal dan mencintai identitas
negeri sendiri tetap menjadi sesuatu yang penting.
- “Untukmu Indonesiaku” ciptaan Guruh Sukarno Putra
Sementara itu, “Untukmu Indonesiaku” menjadi sebuah persembahan yang lebih personal sekaligus terasa paling
dekat dengan semangat “Nada Untuk Negeri”. Lagu ini menjadi ungkapan sederhana Nadia untuk Indonesia,
tentang memberikan sesuatu yang dimiliki untuk negeri yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Dan bagi Nadia, sesuatu yang bisa ia persembahkan adalah musik.
Bukan Sekadar Lagu Nasional
Melalui “Nada Untuk Negeri”, Nadia ingin mengajak generasi muda melihat lagu nasional dari perspektif yang lebih
dekat dengan kehidupan mereka. Menurut Nadia, rasa cinta kepada tanah air tidak harus selalu hadir dalam bentuk
yang besar atau formal. Bisa dimulai dari keluarga, dari lagu yang dinyanyikan sejak kecil, dari mengenal budaya sendiri,
atau bahkan dari sebuah keputusan personal.
“Saya berharap ‘Nada Untuk Negeri’ bisa membuat anak-anak muda kembali merasa dekat dengan Indonesia, meskipun tidak lahir di Indonesia tapi ini negeri
kita semua, keturunan orang Indonesia. Karena menurut saya, mencintai
Indonesia itu tidak harus selalu dengan sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari hal
kecil, salah satunya dari mengenal lagu dan budaya kita sendiri”, ujar Nadia.
Di tengah generasi muda yang semakin terbuka terhadap dunia dan berbagai budaya dari berbagai negara, Nadia percaya bahwa mengenal dan menghargai identitas bangsa sendiri menjadi semakin penting. Memiliki dua kewarganegaraan selama dua dekade memberikan Nadia pengalaman yang cukup unik dalam memahami identitas. Namun ketika tiba waktunya untuk memilih, Nadia tidak melihatkeputusan tersebut sebagai kehilangan salah satu bagian dari dirinya.Justru sebaliknya. Pilihan tersebut menjadi kesempatan bagi Nadia untuk semakin memahami sesuatu yang sebenarnya sudah ia rasakan sejak kecil: Indonesia adalah bagian dari dirinya. Dan di tahun ketika Indonesia kembali merayakan kemerdekaannya,
Nadia memilih menyampaikan rasa tersebut melalui sesuatu yang paling dekat dengannya: Musik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar